Desain Interior Gereja Katolik Minimalis

Kombinasi warna dibutuhkan untuk menghasilkan ruang atau bangunan menjadi lebih menarik yang menguatkan identitas serta karakter ruang atau bangunan yang bersangkutan. Melalui warna, sebuah bangunan lama pun bisa tampil lebih menarik sehingga meningkatkan baik nilai jual maupun nilai estetis bangunan tersebut.

Sebuah warisan budaya layak mendapat perhatian dan perlu dilestarikan. Apalagi kalau warisan budaya yang berupa bangunan itu yang mempunyat nilai arsitektur tinggi. Kondisi desain bangunan gereja katolik tersebut mungkin telah mengalami perubahan fisik yang disebabkan oleh waktu, cuaca dan klim seperti mengelupasnya lapisan cat. Kondisi yang demikian tentu akan merusak bentuk asli bahkan mengurang makna bangunan.

Semua bangunan tua pastilah mengalami hal seperti itu, seperti pada Gerela St, Yusuf Ambarawa, Oleh sebab itulah gerela yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Jago in mengalami revitalisasi setelah berdiri selak tahun ,1924. Gereja yang dirancang oleh arsitek Fermont dan Cuypers ini terletak d daerah strategis di Magelang dan menjadi landmark di kawasannya.

Sebaga pusat orientasi, bangunan Gereja harus tetap memllik nilal arsitektur tinggi meskipun usianya sudah mencapai 80 tahun, Upaya untuk mempertahankan keagungan sebuah tempat peribadatan tersebut dapat dicapai melalui pengecatan kembali tanpa merusak bentuk aslinya, Arsitek yang berperan dalam pelaksanaan revitalisasi tersebut adalah FXE.Arinto dan Marie NM, Sadar bahwa bangunan gereja merupakan warsan budaya, Arinto dan tim melakukan renovasi gereja secara hati-hati agar tdak berubah dari yang asli.

Desain gereja secara umum tidak boleh diubah namun revitalisasi-nya harus terfokus sehingga tercipta suasana sakral dan lebih hidup. Agar proses revitalisasi lebih terarah, pekerlaan ditekankan pada pewarnaan. Pewarnaan ini harus tidak mengurangi citra aslinya nan agung. Oleh sebab itulah kualitas cat harus diperhatikan agar warna mampu bertahan terhadap cuaca dan gangguan klim setempat dalam waktu yang cukup lama. Maka dipilihlah cat Mow lex yang dikenal bermutu tinggi serta unggul sebagai produk cat dekoratif.

Pengecatan dimuLai dari eksterior bangunan dan dilanlutkan pada interiornya. Komposisi pewarnaan eksterior diupayakan teratur dan baik untuk menguatkan garisgaris rancangan bangunan, Beberapa selubungnya dibedakan untuk mempertegas eksistensi bangunan terhadap lingkungannya, Pintu masuk utama misalnya bentuknya tetap di pertahankan bahkan kini diperkuat dengan tampilan gelap-terang warna yang berasal dari warna kunrng muda dan warna abu-abu. Warna yang dipilih untuk desain interior gereja adalah warna lembut karena ingrn memberi kesan sebuah kabut surgawi.

Disamping itu arsitek menghindari pula penggunaan warna-warna kontras karena ingin menciptakan karakter yang sama pada setiap ruang dengan komposisi yang harmonis, Dengan pilihan warna tersebut di harapkan dapat ditingkatkan nilai kesakralan tempat ibadah dan Pada akhirnya sosok gereja tampil lebih hidup setelah proses revitalisasi selesai. Nilai arsitektur bangunan pun sebagai warisan budaya bertambah tanpa mengurangi fungsi nya sebagai gereja. Konsep revitalisasi seperti ni ternyata berhasil memenangkan kompetisi Mowllex Color Competition Award (MCCA) 2003-2004.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *